Selasa, 26 November 2013

Tugas Review Jurnal GCG

Diposting oleh Mutia Azila di 02.22
PENGARUH MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE
TERHADAP KUALITAS LABA

Dul Muid.

Latar Belakang
Laporan keuangan merupakan salah satu informasi kuantitatif yang dibuat oleh perusahaan. Salah satu laporan keuangan yang sering digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan adalah laba. Laba merupakan indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja operasional perusahaan. Investor dan kreditor menggunakan laba untuk mengevaluasi kinerja manajemen, memperkirakan earnings power, dan untuk memprediksi laba dimasa yang akan datang (Siallagan dan Machfoedz, 2006). Adanya fleksibilitas dalam implementasi Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum (PABU) menyebabkan manajemen dapat memilih kebijakan akuntansi dari berbagai pilihan kebijakan yang ada. Hal ini memungkinkan dilakukannya manajemen laba (earnings management) oleh perusahaan (Siregar dan Utama, 2005). Bagi para pengguna laporan keuangan tindakan manajemen laba sangat merugikan karena membuat informasi yang disajikan bias. Hal ini membuat manajemen laba jika dipandang dari sisi kualitas laba akan mengindikasikan kualitas laba yang rendah, sebab laba tidak disajikan sesuai dengan keadaan sebenarnya (Dewi, 2005).
Laba yang kurang berkualitas bisa terjadi karena dalam menjalankan bisnis perusahaan, manajemen bukan merupakan pemilik perusahaan. Pemisahan kepemilikan ini akan dapat menimbulkan konflik dalam pengendalian dan pengelolaan perusahaan yang menyebabkan para manajer bertindak tidak sesuai dengan keinginan para pemilik. Konflik inilah yang sering disebut dengan konflik agency. Salah satu mekanisme yang diharapkan dapat digunakan untuk mengontrol konflik agency yaitu dengan menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Beberapa mekanisme corporate governance yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah keagenan tersebut antara lain dengan meningkatkan kepemilikan manajerial (Jansen dan Meckling, 1976). Dengan meningkatkan kepemilikan saham oleh manajer, diharapkan manajer akan bertindak sesuai dengan keinginan principal karena manajer akan termotivasi untuk meningkatkan kinerja. Selain itu, keberadaan dewan komisaris diharapkan dapat meningkatkan kualitas laba dengan membatasi tingkat manajemen laba melalui fungsi pengawasan atas pelaporan keuangan (Siallagan dan Machfoedz, 2006).
Komite audit yang bertanggung jawab untuk mengawasi laporan keuangan, mengawasi audit eksternal, dan mengamati sistem pengendalian internal juga diharapkan dapat mengurangi sifat opportunistic manajemen yang melakukan manajemen laba (earnings management) (Siallagan dan Machfoedz, 2006).
Kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk mengendalikan pihak manajemen melalui proses monitoring secara efektif sehingga mengurangi tindakan manajemen melakukan manajemen laba. Menurut Boediono (2005) kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk mengurangi insentif para manajer yang mementingkan diri sendiri melalui tingkat
pengawasan yang intens.
Berdasarkan hal tersebut maka permasalahan yang akan dibahas yaitu :
1. Apakah kepemilikan manajerial mempengaruhi kualitas laba ?
2. Apakah proporsi dewan komisaris independen mempengaruhi kualitas laba ?
3. Apakah keberadaan komite audit mempengaruhi kualitas laba ?
4. Apakah kepemilikan institusional mempengaruhi kualitas laba ?
Sedangkan tujuan penelitian ini adalah unutuk mendapatkan bukti secara empiris terhadap hal-hal tersebut di atas.

Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
1. Kepemilikan manajerial, ditentukan dengan menghitung presentase saham yang dimiliki oleh manajemen dibandingkan dengan total jumlah saham perusahaan yang beredar.
2. Dewan komisaris, ditentukan dengan membagi jumlah komisaris independen dengan total jumlah komisaris pada sebuah perusahaan.
3. Komite audit, ditentukan dengan menggunakan dummy variabel yaitu dengan nilai 1 untuk perusahaan yang memiliki komite audit dan nilai 0 untuk perusahaan yang tidak memiliki komite audit.
4. Kepemilikan institusional, ditentukan dengan membandingkan jumlah kepemilikan saham oleh investor institusi terhadap total jumlah saham perusahaan yang beredar.
5. Kualitas laba yang diproksikan dengan discretionary accruals dihitung dengan menggunakan model Jones yang dimodifikasi (modified Jones’ Model) karena model ini dianggap lebih baik daripada model lain (Dechow,1995). Langkah pertama untuk mendapatkan variabel nondiscretionary accruals dan discretionary accruals adalah mencari current accruals (CA).
CAit = Δ ( current asset cash) - Δ (current liabilities current
maturity of long term debt) (1)
Selanjutnya yaitu menghitung nilai current accruals sebagai berikut :
CAit/TAit-1 = a0(1/TAit-1) + a1(ΔSALit/TAit-1) + εit (2)
Untuk menghitung nondiscretionary accruals (NDACC) digunakan koefisien
regresi diatas (a0, a1) dengan rumus sebagai berikut :
NDACCit = a0(1/TAit-1) + a1((ΔSALit-ΔA/Rit)/TAit-1) + εit (3)
Discretionary accruals (DACC) diperoleh dari rumus :
DACCit = CAit/TAit-1 - NDACCit (4)
Keterangan :
CAit = Current accruals perusahaan i pada periode t
ΔSALit = Perubahan penjualan bersih perusahaan i pada periode t
NDACCit = Non discretionary accruals perusahaan i pada periode t
ΔA/Rit = Perubahan piutang bersih perusahaan i pada periode t
TAit-1 = Total aset perusahaan i pada periode t-1
DACCit = Discretionary accruals perusahaan i pada periode t
6. Leverage, merupakan total hutang dibagi dengan total aset.
7. Ukuran Perusahaan, dihitung dengan logaritma dari total aset.
Metode Analisis
 Uji Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah regresi, variabel terikat, variabel bebas, atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Penelitian ini melakukan uji normalitas data dengan melihat tampilan grafik normal plot.
2. Uji Autokolerasi
Pengujian Autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah dalam suatu model regresi linear terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu periode t dengan kesalahan pada periode t-1. Jika terjadi korelasi maka terdapat problem autokorelasi (Ghozali, 2005). Pengujian autokolerasi dilakukan dengan run test.
3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah pada model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedastisitas, dilakukan dengan melihat grafik plot.
4. Uji Multikolinearitas
Pengujian multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi yang kuat antar variabel-variabel bebas dalam model persamaan regresi. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat problem multikolinearitas. Dalam penelitian ini, pengujian multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance (TOL).
Uji Hipotesis
Hipotesis 1, 2, 3, dan 4 diuji dengan menggunakan persamaan regresi berganda. Model persamaan regresi berganda yang digunakan yaitu :
DACCit = β0 + β1MGRit + β2COMit + β3AUDCit + β4INSTit + β5LEVit + β6FSIZEit + εit (5)
Keterangan :
DACCit = Discretionary accruals perusahaan i pada periode t
MGRit = Kepemilikan manajerial perusahaan i pada periode t
COMit = Proporsi komisaris independen perusahaan i pada periode t
AUDCit = Komite audit perusahaan i pada periode t
INSTit = Kepemilikan institusional perusahaan i pada periode t
LEVit = Leverage perusahaan i pada periode t
FSIZEit = Ukuran perusahaan perusahaan i pada periode t
Hasil Penelitian
Statistik Deskriptif
Tabel 1 berikut ini menyajikan statistik deskriptif untuk semua variabel yang digunakan dalam 



Berdasarkan tabel 1 nilai discretionary accrualss tertinggi sebesar 1,967987 dan nilai discretionary accrualss terendah sebesar -1,488343. Nilai rata-rata discretionary accruals sebesar 0,00075971 dengan standar deviasi sebesar 0,270891510.
Tabel 2 berikut ini menyajikan deskriptif statistik untuk variabel komite audit.




Variabel komite audit diukur dengan menggunakan variabel dummy. Nilai 1 menunjukkan terdapat komite audit sedangkan nilai 0 menunjukkan tidak terdapat komite audit. Berdasarkan tabel 2 terdapat 32 sampel yang tidak mempunyai komite audit dan 156 sampel yang mempunyai komite audit.
Uji Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas
Hasil uji normalitas terlihat dalam gambar berikut ini.
Gambar 1
Hasil Uji Normalitas
 




Dalam gambar tersebut terlihat data yang ada mengikuti pola garis diagonal. Hasil ini menunjukkan data yang digunakan terdistribusi secara normal.
2. Uji Autokolerasi
Tabel 3 berikut ini menyajikan hasil uji autokolerasi dengan menggunakan run test.
Tabel 3
Hasil Uji Autokolerasi
Runs Test





Data dalam tabel 3 menunjukkan bahwa data yang digunakan dalam penelitian memiliki distribusi bersifat acak (random), karena nilai signifikasinya ≥ 0,05, yaitu 0,356. Karena data mempunyai distribusi data yang acak, dapat disimpulkan bahwa data tidak terkena autokorelasi.
3. Uji Heterokedastisitas
Gambar 2 berikut ini menyajikan hasil uji heterokedastisitas.
Gambar 2
Hasil Uji Heterokedastisitas


Hasil uji heteroskedastisitas menunjukkan bahwa model regresi tidak mengalami gangguan heteroskedastisitas. Hal ini dapat dilihat pada gambar 2. Grafik scatterplot menunjukkan bahwa titik-titik tersebar tanpa membentuk suatu pola tertentu dan tersebar baik di bawah atau di atas angka 0.
4. Uji Multikolinieritas
Tabel 4 berikut ini menyajikan hasil uji multikolinearitas.
Tabel 4
Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficients(a)


Tabel 4 menunjukkan bahwa model regresi tidak mengalami gangguan multikolinearitas. Hal ini tampak pada nilai tolerance untuk variabel bebas tidak ada yang memiliki nilai tolerance kurang dari 10 persen. Hasil dari perhitungan nilai Variance Inflation Factor (VIF) juga menunjukkan hal yang sama, bahwa tidak ada variabel bebas yang memiliki nilai VIF lebih dari 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel bebas dalam model regresi.
Hasil Analisis Regresi
1.Koefisien Determinasi (R2)
Tabel 5 berikut ini menyajikan hasil pengujian koefisien determinasi.
Tabel 5
Koefisien Determinasi
Model Summary(b)
 


Tabel 5 menunjukkan besarnya adjusted R square yaitu 0,145. Hal ini berarti variabel kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris independen, keberadaan komite audit, kepemilikan institusional, leverage, dan ukuran perusahaan dapat menjelaskan variabel kualitas laba yang diukur dengan discretionary accrualss sebesar 14,5 persen. Sisanya yaitu sebesar 85,5 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar variabel yang digunakan dalam penelitian ini.
2. Uji Statistik F
Pengujian ini bertujuan untuk melihat apakah variabel bebas secara bersama-sama mempengaruhi variabel terikat. Tabel 6 berikut ini menyajikan hasil uji statistik F.
Tabel 6
Uji Statistik F

Dari uji statistik F didapat nilai F hitung sebesar 5,781 dengan probabilitas 0,000. Karena nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05 maka variabel kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris independen, keberadaan komite audit, kepemilikan institusional, leverage, dan ukuranperusahaan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kualitas laba.
3. Uji Hipotesis
Tabel 7 berikut ini menyajikan hasil uji statistik t.
Tabel 7
Uji Statistik t

Hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
H1 : Kepemilikan manajerial secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap kualitas laba. Tabel 7 menunjukkan koefisien kepemilikan manajerial sebesar -3,503 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000. Hal tersebut menunjukkan kepemilikan manajerial secara positif dan signifikan mempengaruhi kualitas laba. Dengan demikian hasil ini mendukung hipotesis pertama. Pengaruh positif kepemilikan manajerial terhadap kualitas laba ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa semakin besar kepemilikan dalam perusahaan maka manajemen akan cenderung untuk berusaha meningkatkan kinerjanya. Hasil ini juga membuktikan bahwa kepemilikan manajerial mampu menjadi mekanisme good corporate governace. Hipotesis kedua yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
H2 : Proporsi jumlah anggota dewan komisaris independen secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap kualitas laba.
Tabel 7 menunjukkan koefisien regresi untuk proporsi dewan komisaris sebesar -0,094 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,165. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin besar proporsi dewan komisaris independen maka discretionary accruals semakin kecil sehingga kualitas laba meningkat. Nilai signifikansi sebesar 0,165 menunjukkan bahwa variabel proporsi dewan komisaris independen tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas laba. Dengan demikian hasil ini menolak hipotesis kedua. Tidak adanya pengaruh yang signifikan antara proporsi dewan komisaris dengan kualitas laba kemungkinan disebabkan masih rendahnya praktek corporate governance dalam perusaahaan-perusahaan di Indonesia. Selain itu keberadaan komisaris independen dalam suatu perusahaan kemungkinan hanya untuk memenuhi regulasi yang ada dan keberadaan komisaris independen ini tidak dapat meningkatkan efektivitas monitoring yang dijalankan oleh komisaris.
Hipotesis ketiga yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
H3 : Keberadaan komite audit secara positif dan sigifikan berpengaruh terhadap kualitas laba.
Tabel 7 menunjukkan koefisien regresi untuk komite audit sebesar -0,028 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,189. Tingkat signifikansi sebesar 0,189 menunjukkan bahwa keberadaan komite audit tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas laba. Dengan demikian hasil ini menolak hipotesis ketiga.
Tidak adanya pengaruh yang signifikan antara keberadaan komite audit dengan kualitas laba kemungkinan disebabkan masih rendahnya praktek corporate governance dalam perusaahan-perusahaan di Indonesia. Selain itu penelitian ini mengukur variabel komite audit hanya dengan 1 karakteristik saja, yaitu ada atau tidaknya komite audit dalam suatu perusahaan.
Hipotesis keempat yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
H4 : Kepemilikan institusional secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap kualitas laba.
Tabel 7 menunjukkan koefisien regresi untuk kepemilikan institusional sebesar -0,188 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,006. Hal tersebut menunjukkan kepemilikan institusional secara positif dan signifikan mempengaruhi kualitas laba. Dengan demikian hasil ini mendukung hipotesis keempat.
Hasil ini sesuai dengan teori bahwa investor institusional tidak berorientasi pada laba sekarang (Fidyati, 2004). Investor institusional lebih mementingkan kinerja perusahaan jangka panjang sehingga kepemilikan saham oleh institusi dapat menjadi kendala bagi perilaku opportunistik manajer.

Pendapat
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang dilakukan peneliti, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :
1.Model penelitian yang belum tentu tepat sehingga dapat berdampak pada hasil dan kesimpulan penelitian.
2.Rentang waktu sampel penelitian yang kurang begitu lama mengakibatkan hasil penelitian belum dapat digeneralisir.
3.Variabel komite audit hanya menggunakan 1 karakteristik yaitu ada atau tidaknya komite audit tanpa memasukkan karakteristik lainnya seperti kompetensi anggota komite audit, latar belakang pendidikan, pengalaman dan sebagainya.
4.Dalam penelitian ini belum dimasukkan semua mekanisme yang ada dalam corporate governance

Bagi Peneliti:
1.Dalam pengambilan sampel, disarankan untuk memakai periode yang lebih panjang.
2.Menambahkan karakteristik-karakteristik yang lebih detail dalam pengukuran komite audit, seperti kompetensi anggota komite audit, latar belakang pendidikan, pengalaman dan sebagainya.
3.Menggunakan atau menambahkan variabel-variabel lain yang berhubungan dengan corporate governance yang belum dimasukkan dalam penelitian ini.

Nama: Mutia Azila
NPM: 25211046
KLS:4EB10
Matkul: Etika Profesi Akuntansi




2 komentar on "Tugas Review Jurnal GCG"

Unknown on 16 April 2016 pukul 18.29 mengatakan...

Kak saya mau tanya,cari data kepemilikan institusional dari laporan keuangan bagaimana ya.
Terimakasih.

Sakinah hang on 24 Mei 2017 pukul 21.53 mengatakan...

mba mau tanya dong lihat kepemilikan manajerial dan institusionalnya itu gimana dan dibagian apa??? kalo ada kontak bisa tolong bantu saya lagi mengerjakan skripsi

Posting Komentar

 

' Mutia Azila Sweet Cupcake Designed by Ipietoon