Rabu, 29 Januari 2014

Memilih Program Affiliate Marketing

Diposting oleh Mutia Azila di 08.22 0 komentar


Memilih Program Affiliate Marketing

Keberhasilan dalam affiliate marketing tergantung dari jenis pemasaran afiliasi yang anda ikuti. Untuk menjadi top marketer, anda pastinya harus berpartisipasi/ bergabung dalam sebuah program affiliate yang menawarkan bemacam-macam produk berkualiatas. Khusus untuk para pebisnis online pemula, berikut ini ada sedikit tips cara memilih program affiliate marketing yang baik sebelum bergabung dan menggelutinya :
1.Program affiliate yang berkaitan dengan berbagai ahli dan niche tertentu biasanya berada dalam beberapa tingkat dan sesuai dengan standard kualitas. Dalam hal ini anda harus mengetahui bahwa produk- produk yang dihasilkan mempunyai manfaat yang nyata dan baik.
2.Program yang ditujukan untuk target pasar yang berkembang, maksudnya adalah produk dari program tersebut dibutuhkan dan sedang banyak dicari dibangsa pasar pada saat sekarang. Dan ini memastikan dan membantu untuk memudahkan mencari referral sebanyak-banyaknya.
3.Program yang mempunyai pengelolaan yang baik, banyak program affiliate yang memberikan fee/ hasil keuntungan sampai 30%. Carilah yang mendekati atau bahkan lebih, jangan buang waktu hanya megikuti program2 yang substansial dan tidak sesuai dengan upah kerja kita.
4.Target penjualan, perlu diketahui banyak perusahan affiliate yang memberikan persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan komisi jika target yang diberikan terpenuhi. Pastikan anda telah siap dan mampu mencapai target persyaratan mereka.
5.Carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai perusahaan affiliate tersebut, jgn sampai anda tertipu yang hanya mengikuti program-program palsu. Mintalah rekomendasi dari orang yang telah mengikutinya. Bergabunglah di forum-forum affiliate, ikuti diskusi, dan jangan lupa ajukan pertanyaan seputar program affiliate marketing yang anda ikuti.

Tips Lain dalam memilih Affiliate Program yang tepat:
1.      Buat daftar affiliate program.
Dari sekian banyak affiliate program yang ada, pilih beberapa yang membuat hati anda tertarik. Ketertarikan anda mungkin bisa berawal dari banyaknya iklan tentang affiliate program tersebut, penawaran yang mereka berikan (komisi tinggi dan fasilitas lain), atau karena produk yang ditawarkan sama dengan hobi anda.
2.      Lengkapi data dan fiturnya.
Beberapa affiliate program yang telah anda pilih, coba lengkapi dengan fitur-fitur yang mereka janjikan. Lebih baik mencatatnya berbentuk kolom-kolom. Supaya lebih gampang membandingkannya.
3.      Bandingkan.
Setelah setiap affiliate program lengkap, bandingkan antar affiliate program. Perhatikan baik-baik fitur-fitur yang ada pada setiap affiliate program. Utamakan yang banyak memberi keuntungan bagi anda.
4.      Perhatikan komisi.
Komisi yang diberikan affiliate program sangat penting. Karena jerih payah anda dalam mempromosikan sebuah affiliate program dihargai dengan komisi itu. Biasanya komisi yang diberikan bisa sampai 50% bahkan lebih.
5.      Aturan komisi.
Meski besarnya komisi penting, tapi bukan satu-satunya pertimbangan. Aturan dalam pembayaran komisi juga sangat perlu mendapat perhatian. Biasanya ada tiga hal yang dijadikan acuan oleh merchant (pemilik affiliate program) dalam pembayaran, yaitu penjualan, hits, dan impresi. Penjualan maksudnya ketika seseorang mengklik banner atau teks iklan dan melakukan pembelian di situs web merchant. Hits maksudnya ketika seseorang mengklik banner atau link teks. Sedang impresi adalah jumlah seseorang yang melihat link. Secara persentase, komisi terbesar yang diberikan merchant biasanya dari penjualan, baru kemudian dari hits dan impresi. Tapi perlu diketahui, tidak setiap affiliate program menerapkan aturan pemberian komisi untuk hits dan impresi. Ada yang cuma dari penjualan saja.
6.      Transparan.
Salah satu ciri affiliate program yang baik adalah transparan. Maksudnya memungkinkan para marketer untuk masuk ke account dan melihat hasil yang didapat. Dengan begitu, selain bisa tahu komisi yang didapat, setiap marketer bisa mengevaluasi diri sejauh mana promosi yang telah dilakukan berhasil menggaet pembeli.
7.      Aturan pembayaran.
Aturan pembayaran yang jelas juga cermin baik tidaknya sebuah affiliate program. Kapan pembayaran komisi dilakukan? Setiap ada transaksi, dua minggu sekali, atau sebulan sekali? Pastikan kejelasan aturan pembayaran ini pada affiliate program yang hendak diikuti. Selain mengenai waktunya, model pembayaran juga harus jelas. Apakah lewat cek, PayPal, atau transfer bank.
8.      Track record.
Perjalanan bisnis sebuah affiliate program juga perlu anda teliti. Ini untuk mengetahui bagus tidaknya respon masyarakat internet terhadap affiliate program tersebut. Cari tahu berapa lama affiliate program itu sudah beroperasi? Apa produk yang dijual? Dan berapa banyak yang tertarik untuk membeli produk yang ditawarkan? Jika anda sendiri tidak yakin terhadap produk yang dijual, hindari bergabung dengannya.
9.      Telusuri forum.
Forum-forum yang membicarakan dunia internet marketing juga perlu anda kunjungi. Tujuannya untuk mengetahui bagaimana pendapat orang-orang terhadap suatu affiliate program. Tapi juga jangan percaya 100 persen dengan pendapat di forum. Kadang ada yang yang tidak jujur dalam berpendapat. Tapi paling tidak anda mendapat gambaran lebih komplit tentang sebuah affiliate program.
  
Sumber:
http://www.artikelbisnisonline.com/memilih-program-affiliate-marketing/
http://www.jokosusilo.com/2008/03/09/9-langkah-memilih-affiliate-program-yang-tepat/

Nama: Mutia Azila
NPM: 25211046

Keuntungan dan Tantangan Berwirausaha

Diposting oleh Mutia Azila di 08.17 0 komentar
Keuntungan dan Tantangan Berwirausaha

Tiap orang tertarik untuk berwirausaha dikerenakan berbagai keuntungan, banyak sekali keuntungan yang akan didapat jika seseorang berani untuk berwirausaha yang paling terlihat keuntungannya dalam berwirausaha dapat dikelompokkan dalam tiga kategori dasar :
1.      Laba
2.      Kebebasan
3.      Kepuasan dalam menjalani hidup.

A.    Keuntungan Berupa Laba
Wirausaha mengharapkan hasil yang tidak hanya mengganti kerugian waktu dan uang yang diinvestasikan tetapi juga memberikan keuntungan yang pantas bagi resiko dan inisiatif yang mereka ambil dalam mengoperasikan bisnis mereka sendiri. Dengan demikian keuntungan berupa laba merupakan motifasi yang kuat bagi wirausaha tertentu.
Laba adalah salah satu cara dalam mempertahankan nilai perusahaan. Beberapa wirausaha mungkin mengambil laba bagi dirinya sendiri atau membagikan laba tersebut, tetapi kebanyakan wirausaha puas dengan laba yang pantas.
B.     Keuntungan Berupa Kebebasan
Kebebasan untuk menjalankan perusahaannya merupakan keuntungan lain bagi seorang wirausaha. Hasil survey dalam bisnis berskala kecil tahun 1991 menunjukkan bahwa 38% dari orang-orang yang meninggalkan pekerjaan nya di perusahaan lain karena mereka ingin menjadi bos atas perusahaan sendiri. Beberapa wirasuaha menggunakan kebebasannya untuk menyusun kehidupan dan perilaku kerja pribadnya secara fleksibel. Kenyataannya banyak wirausaha tidak mengutamakan fleksibiltas disatu sisi saja. Akan tetapi wirausaha menghargai kebebasan dalam karir kewirausahaan, seperti mengerjakan urusan mereka dengan cara sendiri, memungut laba sendiri dan mengatur jadwal sendiri.
C.    Keuntungan Berupa Kepuasan Dalam Menjalani Hidup
Wirausaha sering menyatakan kepuasan yang mereka dapatkan dalam menjalankan bisnisnya sendiri. Pekerjaan yang mereka lakukan memberikan kenikmatan yang berasal dari kebebasan dan kenikmatan ini merefleksikan pemenuhan kerja pribadi pemilik pada barang dan jasa perusahaan. Banyak perusahaan yang dikelolah oleh wirausaha tumbuh menjadai besar akan tetapi ada juga yang relative tetap berskala kecil.

TANTANGAN BERWIRAUSAHA
Meskipun keuntungan dalam berwirasuaha menggiurkan, tapi ada juga biaya yang berhubungan dengan kepemilikan bisnis tersebut. Memulai dan mengoperasikan bisnis sendiri membutuhkan kerja keras, menyita banyak waktu dan membutuhkan kekuatan emosi. Kemungkinan gagal dalam bisnis adalah ancaman yang selalu ada bagi wirausaha, tidak ada jaminan kesuksesan. Wirausaha harus menerima berbagai resiko berhubungan dengan kegagalan bisnis. Tantangan berupa kerja keras, tekanan emosional, dan risiko meminta tingkat komitmen dan pengorbanan jika kita mengharapkan mendapatkan keuntungan.

Sumber:
http://adesyams.blogspot.com/2009/09/keuntungan-dan-tantangan-berwirausaha.html

Nama: Mutia Azila
NPM: 25211046

ANTI MONOPOLI DAN PERSAINGAN TIDAK SEHAT

Diposting oleh Mutia Azila di 08.11 0 komentar


ANTI MONOPOLI DAN PERSAINGAN TIDAK SEHAT

            Undang-Undang No 5 Tahun 1999, mengenai Anti Monopoli dan Persaingan Usaha tidak Sehat sudah (atau baru) berusia lima tahun. Untuk sebuah undang-undang dapat dikatakan masih muda, tapi kalau dilihat dari perkembangan kehidupan masyarakat yang sangat dinamis saat ini, maka lima tahun dirasa cukup lama. Sudah tentu masyarakat sudah menunggu-nunggu hasilnya. Pembahasan UU No 5/1999 di DPR berlangsung pada awal Era Reformasi, tetapi masih dalam konstelasi politik Orde Baru. Lahir di saat masyarakat dan bangsa kita merasakan pahitnya dampak konglomerasi perusahaan-perusahaan. Maraknya perekonomian monopolistik yang ditimbulkan karena adanya kolusi penguasa dan pengusaha. Demikian juga dengan meningkatnya laju globalisasi telah mempengaruhi lahirnya undang-undang ini. DPR yang terkesan populis pada waktu itu menginginkan judul yang tegas -- "anti-monopoli" -- sedangkan pemerintah lebih berorientasi kepada pembentukan kondisi "persaingan usaha yang sehat", yang akhirnya dicapai kompromi (kebiasaan putusan politik) dengan judul yang kita miliki sekarang.
            Politik dan pembahasan pada waktu itu didominasi oleh pemikiran-pemikiran dekonsentrasi, yang kemudian jadi jiwa dari undang-undang tersebut. Tetapi kita ketahui bahwa persaingan usaha yang sehat bukan hanya ditentukan dan diatur oleh UU No 5/1999 saja, tetapi juga ditentukan oleh undang-undang lainnya, kebijakan pemerintah, maupun keputusan pengadilan.

Pengertian Anti Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat
            “Antitrust” untuk pengertian yang sepadan dengan istilah “anti monopoli” atau istilah “dominasi” yang dipakai masyarakat Eropa yang artinya juga sepadan dengan arti istlah “monopoli” Disamping itu terdapat istilah yang artinya hampir sama yaitu “kekuatan pasar”. Dalam praktek keempat kata tersebut, yaitu istilah “monopoli”, “antitrust”, “kekuatan pasar” dan istilah “dominasi” saling dipertukarkan pemakaiannya. Keempat istilah tersebut dipergunakan untuk menunjukkan suatu keadaan dimana seseorang menguasai pasar ,dimana dipasar tersebut tidak tersedia lagi produk subtitusi yang potensial, dan terdapatnya kemampuan pelaku pasar tersebut untuk menerapkan harga produk tersebut yang lebih tinggi, tanpa mengikuti hukum persaingan pasar atau hukum tentang permintaan dan penawaran pasar. Pengertian Praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat menurut UU no.5 Tahun 1999 tentang Praktek monopoli adalah pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikankepentingan umum.
Monopoli adalah suatu situasi dalam pasar dimana hanya ada satu atau segelintir perusahaan yang menjual produk atau komuditas tertentu yang tidak punya pengganti yang mirip dan ada hambatan bagi perusahaan atau pengusaha lain untuk masuk dalam bidang industri atau bisnis tersebut.   
Persaingan usaha tidak sehat adalah suatu persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang atau jasa yang dilakukan dengan cara-cara yang tidak jujur atau dengan cara melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.

Asas dan Tujuan Antimonopoli dan Persaingan Usaha
Asas
Pelaku usaha di Indonesia dalam menjalankan kegiatan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum.
Tujuan
Adapun tujuan UU Antimonopoli sebagaimana ditetapkan di dalam Pasal 3 adalah untuk :
a.       menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat;
b.      mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil;
c.       mencegah praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha; dan
d.      terciptan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha.

Dari keempat tujuan tersebut dirumuskan menjadi dua tujuan pokok, yaitu tujuan ekonomi dan tujuan sosial. Yang dimaksud dengan tujuan ekonomi adalah terselenggaranya persaingan usaha yang sehat, kondusif dan efektif yang mengakibatkan efisiensi ekonomi. Sedangkan tujuan sosial adalah melalui persaingan usaha yang sehat tersebut kesejahteraan masyarakat akan ditingkatkan (the maximization of consumer welfare), yaitu masyarakat akan mempunyai pilihan untuk membeli suatu barang atau jasa dengan harga yang lebih murah. Jadi, kedua tujuan tersebut menjadi dasar parameter kita untuk menilai, apakah dampak UU Antimonopoli tersebut terhadap pelaku usaha, terhadap masyarakat (konsumen), dan terhadap praktisi hukum.
            (UU) persaingan usaha adalah Undang-undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU No.5/1999) yang bertujuan untuk memelihara pasar kompetitif dari pengaruh kesepakatan dan konspirasi yang cenderung mengurangi dan atau menghilangkan persaingan. Kepedulian utama dari UU persaingan usaha adalah promoting competition dan memperkuat kedaulatan konsumen.

 Ruang Lingkup
            Dalam Undang-Undang Anti Monopoli Indonesia , suatu monopoli dan monopsoni terjadi jika terdapatnya penguasaan pangsa pasar lebih dari 50 % (lima puluh persen ) (pasal 17 ayat (2) juncto pasal 18 ayat (2) ) Undang-undang no 5 Tahun 1999
            Dalam pasal 17 ayat (1) Undang- undang Anti Monopoli dikatakan bahwa “pelaku usaha dilarang melakukan penguasaan pasar atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan tidak sehat”, sedangkan dalam pasal 17 ayat (2) dikatakan bahwa “pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila:
a. Barang dan atau jasa yang bersangkutan belum ada subtitusinya;atau
b. Mengakibatkan pelaku usaha lain tidak dapat masuk kedalam persaingan usaha barang dan atau jasa yang sama;atau
c. Satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha mengusasai lebih dari 50 % (lima  puluh persen ) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.
Sementara itu, pengertian posisi dominan dipasar digambarkan dalam sidang-sidang Masyarakat Eropa sebagai :
a.       Kemampuan untuk bertindak secara merdeka dan bebas dari pengendalian harga, dan
b.      Kebergunaan pelanggan, pemasok atau perusahaan lain dalam pasar, yang bagi mereka perusahaan yang dominant tersebut merupakan rekan bisnis yang harus ada
c.       Dalam ilmu hukum monopoli beberapa sikap monopolistik yang mesti sangat dicermati dalam rangka memutuskan apakah suatu tindakan dapat dianggap sebagai tindakan monopoli.
Sikap monopolistik tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Mempersulit masuknya para pesaing ke dalam bisnis yang bersangkutan
2.      Melakukan pemasungan sumber suplai yang penting atau suatu outlet distribusi yang penting.
3.      Mendapatkan hak paten yang dapat mengakibatkan pihak pesaingnya sulit untuk menandingi produk atau jasa tersebut.
4.      Integrasi ke atas atau ke bawah yang dapat menaikkan persediaan modal bagi pesaingnya atau membatasi akses pesaingnya kepada konsumen atau supplier.
5.      Mempromosikan produk secara besar-besaran
6.      Menyewa tenaga-tenaga ahli yang berlebihan.
7.      Perbedaan harga yang dapat mengakibatkan sulitnya bersaing dari pelaku pasar yang lain
8.      Kepada pihak pesaing disembunyikan informasi tentang pengembangan produk , tentang waktu atau skala produksi.
9.      Memotong harga secara drastis.
10.  Membeli atau mengakuisisi pesaing- pesaing yang tergolong kuat atau tergolong prospektif.
11.  Menggugat pesaing-pesasingnya atas tuduhan pemalsuan hak paten, pelanggaran hukum anti monopoli dan tuduhan-tuduhan lainnya. ( Andersen, William R, 1985:214 dalam Munir Fuady, 2003: 8).

Jika kita telusuri ketentuan dalam Undang-Undang Anti Monopoli Nomor 5 Tahun 1999, maka tindakan–tindakan yang berhubungan dengan pasar yang perlu diatur oleh hukum anti monopoli yang sekaligus merupakan ruang lingkup dari hukum anti monopoli tersebut adalah sebagai berikut:
a) Perjanjian yang dilarang;
b) Kegiatan yang dilarang;
c) Penyalahgunaan posisi dominan;
d) Komisi Pengawas Persaingan Usaha;
e) Tata cara penanganan perkara;
f) Sanksi-sanksi;
g) Perkecualian-perkecualian

Penegakan Hukum
            Tidak banyak yang dicatat dalam sejarah Indonesia di seputar kelahiran dan perkembangan hukum anti monopoli ini. Yang banyak dicatat adalah sejarah justru tindakan-tindakan atau perjanjian dalam bisnis yang sebenarnya harus dilarang oleh Undang-Undang Anti Monopoli.
            Dimasa orde baru Soeharto misalnya, di masa itu sangat banyak terjadi monopoli, oligopoly dan perbuatan lain yang menjurus kepada persaingan curang. Misalnya monopoli tepung terigu, cengkeh, jeruk, pengedaran film dan masih banyak lagi. Bahkan dapat dikatakan bahwa keberhasilan beberapa konglomerat besar di Indonesia juga bermula dari tindakan monopoli dan persaingan curang lainnya, yang dibiarkan saja bahkan didorong oleh pemerintah kala itu.
            Karena itu tidak mengherankan jika cukup banyak para praktisi maupun teoritisi hukum dan ekonomi kala itu yang menyerukan agar segera dibuat sebuah Undang-undang Anti Monopoli. Namun sampai dengan lengsernya Mantan Presiden Soeharto, dimana baru dimasa reformasi tersebut diundangkan sebuah undang-undang Anti Monopoli No 5 Tahun 1999. Memang sebelum lahirnya Undang-undang anti monopoli secara sangat minim dalam beberapa undang-undang telah diatur tentang monopoli atau persaingan curang ini sangat tidak memadai, ternyata tidak popular dimasyarakat dan tidak pernah diterapkan dalam kenyataannya. Ketentuan tentang anti monopoli atau persaingan curang sebelum diatur dalam Undang-undang anti monopoli tersebut, diatur dalam ketentuan –ketentuan sebagai berikut:
a.       Undang- undang no 5 Tahun 1984 tentang perindustrian.,Diatur dalam Pasal 7 ayat (2) dan (3), pasal 9 ayat (2)
b.      Kitab Undang-undang Hukum Pidana.,Terdapat satu pasal yaitu pasal 382 bis.
c.       Undang-undang Perseroan Terbatas No 1 Tahun 1995,Ketentuan monopoli diatur dalam pasal 104 ayat.
            Undang-undang Anti Monopoli No 5 tahun 1999 dalam memberikan arti kepada posisi dominan atau perbuatan anti persaingan lainnya mencakup baik kompetisi yang interbrand, maupun kompetisi yang intraband. Yang dimaksud dengan kompetisi yang interbrand adalah kompetisi diantara produsen produk yang generiknya sama. Dilarang misalnya jika satu perusahaan menguasai 100 persen pasar televisi, atau yang disebut dengan istilah “monopoli”. Sedangkan yang dimaksud dengan kompetisi yang intraband adalah kompetisi diantar distributor atas produk dari produsen tertentu

Sumber:
http://ndygalery.blogspot.com/2010/10/anti-monopoli-dan-persaingan-tidak.html

Nama: Mutia Azila
NPM: 25211046
 

' Mutia Azila Sweet Cupcake Designed by Ipietoon