Senin, 30 Desember 2013

Kenaikan 'BI rate' berdampak pada perekonomian

Diposting oleh Mutia Azila di 09.23


Kenaikan 'BI rate' berdampak pada perekonomian

Suku bunga acuan atau BI Rate naik lagi 25 basis poin, menjadi 7,5 persen. Kali ini, Bank Indonesia fokus pada pengendalian defisit transaksi berjalan. Namun, dalam jangka menengah panjang, BI mengarahkan kebijakan kepada pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan. Kenaikan BI Rate itu diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa (12/11/2013). Dengan demikian, BI Rate sudah naik 175 basis poin (bps) atau 1,75 persen sejak Juni 2013.
Langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) dua kali berturut-turut dalam dua bulan terakhir, dinilai bakal berdampak panjang bagi ekonomi Indonesia. BI Rate kini berada di level 6,5 persen, setelah Bank Indonesia dalam dua bulan berturut-turut telah dua kali menaikkan suku bunga acuan itu.
Kenaikan BI Rate akan berdampak terhadap perekonomian dan sektor riil. Pertumbuhan ekonomi akan melambat. Di sisi lain, kenaikan BI Rate akan mengakibatkan kenaikan suku bunga perbankan. Bank bisa menaikkan suku bunga simpanan ataupun pinjaman.
Kenaikan suku bunga simpanan akan mendorong masyarakat menunda kegiatan konsumsi karena memilih menyimpan dana di bank. Kenaikan suku bunga simpanan akan meningkatkan biaya dana bank. Jika tidak ingin margin tertekan, bank harus menaikkan suku bunga pinjaman. Langkah bank menaikkan suku bunga pinjaman akan berhadapan dengan risiko kredit bermasalah.
Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Achmad Baiquni mengakui, BRI akan memantau lebih dulu situasi sebelum memutuskan menaikkan atau tidak menaikkan suku bunga simpanan.
Anggota Komisi XI DPR Arif Budimanta mengatakan, kenaikan BI Rate yang dimaksudkan untuk mempertahankan nilai tukar rupiah dan menyikapi lonjakan inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) ini, tentu akan memiliki dampak yang begitu besar dan panjang bagi perekonomian nasional, khususnya berkaitan dengan investasi dan kegiatan di sektor riil
Pada pertengahan Juni 2013, Bank Indonesia telah menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen, dari sebelumnya 5,75 persen yang berlaku sejak Februari 2012. Kamis (11/7/2013), Bank Indonesia kembali menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin, menjadi 6,5 persen.
Dampak panjang bagi perekonomian nasional, berasal dari prinsip asimetris yang berlaku dalam ekonomi. Ketika Bank Indonesia menaikkan BI Rate, ujar dia, perbankan seketika menaikkan suku bunga kredit. Namun sebaliknya ketika BI Rate turun, tak serta-merta perbankan menurunkan suku bunga kredit.
Perbankan akan melakukan proses wait and see yang cukup panjang (sebelum menurunkan kembali suku bunga kredit), sehingga akan merugikan perekonomian nasional khususnya sektor riil
kenaikan BI Rate ini bertujuan mendorong kembali datangnya arus modal masuk (capital inflow), yang diharapkan akan memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.  dalam kondisi yang tak menentu atau mengarah pada suasana krisis ekonomi, pasar dapat mengartikan naiknya BI Rate sebagai meningkatnya resiko, sehingga hasilnya akan kontraproduktif dengan tujuan menstabilkan nilai tukar itu sendiri
Sementara untuk meredam lonjakan inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak, Pemerintah bisa menggunakan serangkaian kebijakan fiskal alih-alih menaikkan BI Rate. Seperti dengan menaikkan pajak pada barang-barang non-tradable.
Bila benar serangkaian kebijakan moneter Bank Indonesia yang dilakukan dua bulan terakhir adalah untuk menyerap dampak kenaikan harga BBM, melihat ongkos yang dikeluarkan terlalu besar. bisa jadi besarnya dana yang dipakai untuk "menghemat" subsidi BBM justru jauh lebih besar daripada nominal subsidi yang bisa dihemat.
Langkah menaikkan BI Rate ini sekaligus upaya BI mengantisipasi kemungkinan berkurangnya stimulus moneter yang dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed. Jika pengurangan stimulus itu dilakukan akhir tahun 2013, BI sudah siap menjaga rupiah tidak tertekan.
Sin Beng Ong dari JP Morgan Chase Bank, dalam rilisnya menyebutkan, langkah BI telah menunjukkan prioritas kebijakan, yakni mengendalikan defisit transaksi berjalan. Langkah itu diperkirakan masih akan berlanjut pada tahun 2014.

Sumber:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/07/12/0128288/Kenaikan.BI.Rate.Berdampak.Panjang.Pada.Ekonomi
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/11/13/0740572/Ini.Dampak.Kenaikan.BI.Rate

0 komentar on "Kenaikan 'BI rate' berdampak pada perekonomian"

Posting Komentar

 

' Mutia Azila Sweet Cupcake Designed by Ipietoon